Penatua – Diaken dan PanggilanNya Dalam Pelayanan

PENATUA – DIAKEN  DAN PANGGILANNYA DALAM PELAYANAN [1]

Oleh Pdt. Tony Tampake, M.Si [2]

 1.   Pendahuluan.

Gereja dipanggil dan ditempatkan oleh Tuhan di tengah dunia dalam rangka kehendakNya untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yaitu keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Inilah yang disebut dengan tugas panggilan gereja di dalam dunia. Tugas panggilan ini kemudian dijabarkan dalam apa yang disebut “Tri Panggilan Gereja” yaitu : bersekutu atau koinonia, bersaksi atau marturia, dan melayani atau diakonia.  

Dalam rangka mewujudnyatakan tugas panggilan tersebut gereja membentuk organisasi dan menata pelayanannya. Salah satu aspek dari organisasi dan penatalayanan gereja adalah pemilihan dan penetapan Majelis Jemaat yang terdiri dari para penatua dan Diaken.

Makalah ini hendak menyoroti tugas dan panggilan para Penatua dan Diaken dalam pelayanan di dalam gereja. Oleh sebab itu dalam pembahasannya akan dibicarakan pokok-pokok sbb: apa yang menjadi hakekat jemaat? Apa dan siapa penatua dan diaken, apa tugas dan tanggung jawab mereka dalam jemaat? Bagaimana seharusnya mereka menghadirkan diri di tengah jemaat? Dan apa tantangan serta persoalan-persoalan yang mungkin mereka hadapi?

Kiranya bahasan ini akan dapat memberi informasi dan motivasi bagi para penatua dan diaken di dalam mereka menjawab panggilan Tuhan untuk melayani jemaatNya.

2.   Hakekat Jemaat.

Hakekat jemaat dapat dilihat dari dua perspektif yaitu perspektif abstrak dan empirik. Secara abstrak jemaat adalah suatu persekutuan antara Yesus Kristus dengan orang-orang yang percaya kepadaNya. Persekutuan ini dilukiskan dengan ragam metafora seperti jemaat sebagai satu tubuh dengan banyak anggota dan Yesus Kristus adalah kepala, jemaat sebagai mempelai perempuan yang akan bersatu dengan Yesus Kristus sebagai mempelai laki-laki, jemaat sebagai batu-batu hidup yang tersusun menjadi sebuah bangunan dan Yesus Kristus adalah Batu Penjurunya, dan jemaat sebagai carang-carang anggur dan Yesus Kristus adalah pokoknya.[3] Dari ragam metafora ini hal yang mau ditekankan adalah ‘kesatuan’ antara Yesus Kristus dengan ‘jemaat’-Nya. Kesatuan ini bukan hasil usaha anggota-anggota jemaat itu sendiri. Bukan mereka yang menciptakannya. Tetapi kesatuan itu merupakan hasil karya Tuhan di dalam Yesus Kritus yang telah menyerahkan diriNya untuk mati dan bangkit demi menebus dosa-dosa manusia.

Di dalam Perjanjian Baru jemaat disebut dengan istilah ‘ekklesia’. Istilah ini diambil alih dari dunia Yunani yang berarti: perkumpulan rakyat (demos) di kota-kota. Namun ketika jemaat kristen awal memakai istilah ‘ekklesia’ untuk menyebut diri mereka maka yang dimakudkan adalah ‘ekklesia tou Theou’ yang artinya ‘Umat Tuhan’ yaitu mereka yang oleh karena kasih karunia Allah dan oleh kuasa Roh Kudus bersekutu untuk bersaksi dan melayani di tengah-tengah dunia di mana mereka berada. Inti kesaksian mereka adalah Tuhan itu sangat mengasihi manusia yang berdosa dan rela berkorban untuk menyelamatkan mereka, seperti yang telah dilakukan di dalam Yesus Kristus. Sementara pelayanan mereka berintikan pelayanan cinta kasih kepada semua orang dengan teladan pelayanan Yesus Kristus.[4]

Secara empirik hakekat jemaat adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Perkumpulan ini mempunyai sistemnya tersendiri yang mengatur bagaimana mereka harus berhubungan satu dengan yang lain dan bagaimana mereka harus menjalankan visi dan misi perkumpulan mereka. Dalam hal inilah dikenal sistem organisasi kegerejaan dan struktur kepemimpinan yang berlaku di dalam gereja.

Keberadaan dan tanggung jawab para pelayan jemaat dapat dipahami dari dua perspektif ini. Secara abstrak jemaat adalah ‘tubuh Kristus’ dan para  pelayan jemaat adalah ‘anggota-anggota tubuh’ yang memiliki fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing serta saling melengkapi satu dengan yang lain. [5] Secara empirik jemaat adalah bagian dari masyarakat luas yang memiliki identitasnya sendiri melalui sistem organisasinya, sistem kepercayaannya, dan pengalaman-pengalaman imannya. Sedangkan para pelayan jemaat adalah orang-orang yang dipilih dan ditetapkan untuk mengatur dan menyelenggarakan kehidupan jemaat itu; baik secara abstrak maupun secara empirik. Itulah sebabnya ada orang yang mengatakan bahwa para pelayan jemaat adalah “Pengatur Rumah Allah”. [6]

Dari uraian singkat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa jemaat adalah wujud kehadiran Yesus Kristus di tengah dunia melalui orang-orang yang percaya kepadaNya dan bersaksi tentang kasihNya bagi semua manusia serta melayani semua orang yang membutuhkan belas kasih, keadilan, dan kedamaian. Untuk mengatur kehadiran mereka diperlukan sebuah sistem yang disebut ‘penatalayanan jemaat’ dan untuk memimpin persekutuan, kesaksian dan pelayanan mereka maka dipilih dan ditetapkanlah para ‘pelayan jemaat’. Karena itu keberadaan dan fungsi para pelayan jemaat harus dipahami dalam konteks hakekat jemaat sebagai “Tubuh Kristus”dan arti kehadirannya di tengah dunia untuk memberitakan tanda-tanda Kerajaan Allah yaitu kasih, keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

3.   Pelayan-Pelayan Jemaat.

Dalam tradisi gereja-gereja aliran reformatoris[7]  dikenal dan dikembangkan  konsep ‘imamat am’ orang percaya. Konsep ini didasarkan pada tulisan rasul Petrus yang berkata: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib.”[8] Interpretasi gereja-gereja reformatoris terhadap ayat ini mengatakan bahwa pada dasarnya semua orang percaya adalah pelayan jemaat yang memiliki hak serta kewajiban yang sama dalam persekutuan (koinonia), kesaksian (marturia), dan pelayanan (diakonia).[9] Hal ini agak berbeda dengan konsep imamat dalam Perjanjian lama yang mengatakan bahwa hanya mereka yang berasal dari keturunan Lewi yang berhak dan wajib untuk menjadi pelayan di rumah Tuhan (baca: Imam).[10]

Namun demikian berdasarkan ajaran-ajaran rasul Paulus di dalam surat-suratnya gereja-gereja aliran reformatoris mengenal apa yang disebut ‘pelayan khusus’ yaitu mereka yang dipilih dan ditetapkan oleh Yesus Kristus melalui jemaatNya untuk memimpin, mengajar, dan menggembalakan jemaat. Menurut DR. J.L. Ch. Abineno para pelayan khusus ini dipilih dan ditetapkan bukan pertama-tama karena mereka mempunyai kedudukan istimewa dan kelebihan dibandingkan dengan yang lain, tetapi terutama karena sebagai anggota-anggota jemaat mereka diperkenankan oleh Yesus Kristus sendiri sebagai Kepala Gereja untuk melayani Dia di dalam jemaatNya. Oleh sebab itu kedudukan mereka pada dasarnya adalah sama dengan anggota-anggota jemaat pada umumnya. Antara mereka dengan jemaat kebanyakan tidak ada perbedaan kualitatif. Apalagi keterpilihan dan penetapan mereka sebagai pelayan khusus semata-mata adalah karena karunia Allah.[11]

Jadi berdasarkan konsep imamat am orang percaya semua anggota jemaat adalah ‘pelayan’ dan dari antara mereka dipilih dan ditetapkan beberapa orang untuk memimpin penyelenggaraan persekutuan, pelayanan, dan kesaksian mereka semua sebagai jemaat. Berikut kita akan melihat sejarah perkembangan pelayan-pelayan khusus dalam gereja.

  1. Pelayan-pelayan jemaat dalam Perjanjian Baru.

Menurut kesaksian Perjanjian Baru pelayan-pelayan khusus jemaat terdiri dari:

  • Apostolos’ atau rasul, yaitu mereka yang menjadi saksi mata langsung akan kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Gereja sepanjang masa memegang tradisi bahwa jabatan rasul ada pada murid-murid Yesus Kristus – kecuali Yudas Iskariot – dan ditambah dengan Paulus.[12]
  • ‘Presbiteros’ atau penatua, yaitu mereka yang dipilih oleh para rasul dan jemaat untuk menjadi “tua-tua” jemaat.[13] Presbiteros ini terutama dikenal dalam jemaat-jemaat Perjanjian Baru  yang berlatar belakang Yahudi.
  • Episkopos’ atau penilik, yaitu mereka yang memiliki fungsi yang sama dengan para penatua tetapi terutama lebih dikenal dalam jemaat-jemaat yang berlatar belakang non Yahudi. [14] Salah satu penilik jemaat dalam Perjanjian Baru yang masih muda tetapi sangat diandalkan oleh Paulus adalah Timotius.
  • Diakonos’ atau diaken, yaitu mereka yang memiliki fungsi yang hampir sama dengan penatua dan penilik jemaat namun lebih dikhususkan bagi pelayanan terhadap orang-orang miskin dan orang-orang sakit.
  1. Pelayan-pelayan jemaat dalam Gereja Kontemporer.

Di dalam gereja-gereja aliran reformatoris dikenal empat jenis pelayanan yaitu pelayanan para Pelayan Firman, pelayanan pengajaran pokok-pokok iman, pelayanan perkunjungan pastoral, dan pelayanan orang miskin. [15] Sehubungan dengan empat jenis pelayanan tersebut dikenal pelayan-pelayan khusus sbb:

  • Pendeta yaitu mereka ditahbiskan untuk memimpin ibadah dan melayani sakramen baptisan kudus dan perjamuan kudus.
  • Pengajar yaitu mereka yang dididik di universitas tentang pokok-pokok iman Kristen dan bertanggung jawab atas katekisasi jemaat dan khotbah dalam ibadah jemaat.
  • Penginjil yaitu mereka yang diutus ke daerah-daerah penginjilan untuk menyebarkan iman Kristen.
  • Presbiter atau penatua yaitu mereka yang bertugas untuk memimpin jemaat dan mengatur serta mengadakan perkunjungan jemaat. Selain itu para presbiter atau penatua diminta untuk mendampingi pendeta dalam ibadah, pelayanan sakramen dan mengantar para pengajar ke mimbar untuk berkhotbah.
  • Diaken yaitu mereka yang bertugas untuk melayani anggota jemaat yang sedang mengalami kesusahan atau kesulitan karena dukacita oleh kematian, kemiskinan, dan yatim piatu. Selain itu, diaken bersama dengan penatua diminta juga untuk mendampingi pendeta dalam ibadah, pelayanan sakramen, dan  bersama penatua melaksanakan perkunjungan jemaat.
  1. Pelayan-pelayan jemaat dalam Gereja Kristen Sulawesi Tengah.

Secara historis dan dogmatis GKST termasuk dalam aliran reformatoris rumpun gereja Calvinis. Salah satu karaketeristik gereja reformatoris rumpun Calvinis adalah sifat presbiterialnya. Gereja-gereja Calvinis seperti GKST adalah gereja yang jemaat-jemaatnya dipimpin oleh sebuah majelis yang terdiri dari unsur pendeta (kalau ada pendeta di jemaat itu), penatua, dan diaken. [16] Sejak berdirinya GKST pada tanggal 1 Oktober 1947 dikenal pelayan-pelayan sbb: Pendeta, Guru Jemaat, Penginjil, Penatua, dan Diaken. Merekalah yang bertanggung jawab atas semua sendi kehidupan berjemaat. Akan tetapi dalam Tata Dasar GKST tahun 2006 pasal 11 tentang jabatan gerejawi, GKST menyederhanakan ragam pelayan dengan menyebut tiga jabatan yaitu Pendeta, Penatua, dan Diaken. Sehingga dengan demikian saat ini tidak dikenal lagi jabatan Guru Jemaat dan Penginjil. Namun demikian bukan berarti segi pengajaran dan penginjilan ikut hilang dari kehidupan jemaat-jemaat GKST. Melainkan segi pelayanan itu dilaksanakan secara kolektif oleh pendeta, penatua, dan diaken dalam kebersamaan dengan unur-unsur pelayan dan pelayanan lainnya yang ada.

Di dalam Tata Laksana GKST tahun 2006 ditegaskan bahwa ketiga jabatan tersebut dipandang secara integrative dalam fungsi kemajelisannya dengan tugas antara lain :

  • Mewujudkan persekutuan dalam Yesus Kristus di dalam Jemaat dengan melaksanakan ibadah, pemberitaan Firman Allah, pelayanan sakramen, diakonia, penggembalaan serta pelayanan penilikan dan disiplin gereja.
  • Memperhatikan serta menyelenggarakan PAK di dalam jemaat.
  • Menetapkan koordinasi dan pembagian kerja di antara para anggota Majelis Jemaat.
  • Menetapkan kebijaksanaan umum bagi pelaksanaan pelayanan dan mendampingi anggota jemaat dalam pertumbuhannya menuju kedewasaan iman.
  • Melaksanakan program kerja tahunan, baik kegiatan yang bersifat rutin maupun kegiatan yang bersifat pembangunan yang ditetapkan oleh rapat jemaat.

Selain itu Majelis Jemaat bertanggung jawab terhadap kehidupan, pertumbuhan, perkembangan iman jemaat serta bertanggung jawab pula terhadap keutuhan jemaat. Sebab itu Majelis Jemaat mengupayakan dan mengawasi agar Firman Tuhan, pelayanan sakramen sungguh dijadikan dasar kehidupan kristen yang dilayankan dan diikuti secara teratur, baik dan benar. [17]

4.   Tugas dan Tanggung Jawab Penatua dan Diaken dalam Pelayanan.

Seperti yang telah dikatakan dalam awal tulisan ini bahwa tugas dan tanggung jawab Penatua dan Diaken berada dalam konteks hakekat jemaat sebagai Tubuh Kristus dan tri tugas panggilannya yaitu bersekutu (koinonia), beraksi (marturia), dan melayani (diakonia).

  1. Amanat Perjanjian Baru.

Di dalam Perjanjian Baru kita tidak menemukan pemisahan yang tajam tentang tugas dari masing-masing pelayan. Rasul Paulus kadang menyebutkan bahwa memimpin jemaat adalah tugas para presbiter atau episkopos tetapi sering juga dia menyebut bahwa para diaken juga bertanggung jawab atas kepemimpinan dalam jemaat. Demikian juga halnya dengan tugas pemberitaan firman dan penggembalaan. Itu berarti bahwa Perjanjian Baru memandang bahwa baik penatua maupun diaken, keduanya mempunyai tugas tanggung jawab yang sama di dalam hal memimpin jemaat, memberitakan firman, mengajarkan pokok-pokok iman, dan pelayanan kasih dan keadilan di dalam jemaat. [18]

Menurut DR. A.N. Hendriks ada tiga hal yang penting di dalam Perjanjian Baru berkaitan dengan tugas Penatua dan Diaken, yaitu:

Pertama-tama adalah tugas mereka untuk melayani jemaat secara pastoral. Kepada para penatua dan diaken di jemaat Efesus rasul Paulus menasehatkan: “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah…” [19]Para penatua dan diaken harus menilik jemaat. Dalam kelaziman bahasa Perjanjian Baru, hal ini tidak berarti pemeriksaan atau pengawasan. Dalam PB menilik berarti ‘mengindahkan atau mempedulikan’. [20] Karena itu tugas penilikkan dan penggembalaan pada dasarnya adalah sama. Para penatua dan diaken sebagai penilik jemaat bertugas untuk mengindahkan atau mempedulikan kehidupan jemaat sebagai inti dari pelayanan penggembalaan.

Kedua adalah bahwa para penatua dan diaken harus mengepalai dan memimpin jemaat. Merekalah ‘pengatur rumah Allah’ dan bertanggung jawab atas kehidupan setiap orang yang ada di dalamnya.

Ketiga adalah bahwa mereka harus mengajar dan memberitakan firman Tuhan baik ataupun tidak baik waktunya. Sebab Firman Tuhan adalah pelita dan terang bagi jemaat. Firman Tuhan memberi penghiburan dan kekuatan serta pedoman hidup bagi jemaat.  Tugas penatua dan diaken adalah memberi kekuatan dan penghiburan kepada jemaat yang sedang menghadapi masalah atau kedukaan serta memberi arahan firman Tuhan bagi jemaat dalam menapaki kehidupan dan pekerjaan mereka.

Keempat adalah bahwa mereka harus menjadi teladan bagi seluruh jemaat. Kepada Timotius raul Paulus menegaskan: “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” [21] Dengan demikian jelas bahwa para penatua dan diaken adalah panutan dan soko guru jemaat.

  1. Amanat Tata Gereja GKST.

Di dalam Tata dasar dan Tata Laksana GKST uraian tugas dan tanggung jawab penatua diaken diawali dengan penegasan tentang apa dan siapa mereka. Penatua adalah anggota-anggota jemaat yang tetap berada dalam kehidupan dan pekerjaan sehai-hari tetapi dipanggil oleh Tuhan melalui pemilihan untuk dituakan oleh jemaat bagi tugas pelayanan secara sukarela memperlengkapi, membangun dan memelihara hidup persekutuan jemaat sebagai Tubuh Kristus. Diaken adalah anggota-anggota jemaat yang tetap berada dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari tetapi dipanggil oleh Tuhan bagi pelakanaan tugas pelayanan kasih. [22]

  • Tugas Penatua adalah:
    • Menjadi teladan, pembimbing, dan pendorong bagi anggota gereja dalam pertumbuhan kedewasaan iman dan hidup yang mencerminkan semangat untuk bersekutu, melayani, dan bersaksi.
    • Bersama-sama dengan Pendeta bertanggung jawab atas pelaksanaan pemberitaan Firman Tuhan di setiap ibadah jemaat setempat.
    • Melaksanakan perkunjungan kepada keluarga anggota-anggota jemaat, memperhatikan kesejahteraan lahir batin. Bilamana ada anggota jemaat yang perlu dibantu dapat melaporkan kepada Majelis Jemaat untuk penanganannya.
    • Melaksanakan pekerjaan-pekerjaan di bidang pendidikan dan pembinaan.
    • Memelihara iman jemaat. [23]
  • Tugas Diaken adalah:

1)      memberi perhatian dan pelayanan pastoral kepada sesama anggota jemaat ataupun masyarakat sekitar.

2)      Bersama-sama dengan penatua mengatur keperluan untuk pelayanan sakramen.

3)      Mengusahakan atau menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga kristen, lembaga pemerintah, lembaga masyarakat yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, bantuan hukum, atau upaya-upaya hukum atas keputusan Majelis jemaat. [24]

Dari deskripsi tersebut di atas dapat dilihat pentingnya peran dan fungsi penatua dan diaken dalam kehidupan jemaat. Mereka mendapat karunia dari Tuhan untuk menyelenggarakan dan memimpin semua kegiatan dalam jemaat. Itulah sebabnya pelayanan dan pengabdian mereka perlu untuk dihargai, dihormati, dan disyukuri oleh semua anggota jemaat, termasuk oleh keluarga mereka sendiri. Mereka tidak mendapat upah seperti layaknya para profesional yang lain karena pekerjaan mereka adalah ‘panggilan’ berdasarkan kasih karunia Tuhan dan mereka tidak perlu untuk menanggalkan pekerjaan atau profesi mereka sehari-hari.

5. Tantangan–tantangan dalam pelayanan.

Panggilan untuk melayani pekerjaan Tuhan melalui jabatan penatua dan diaken mengandung juga tantangan. Secara teoritis ada beberapa tantangan yang dapat muncul yaitu:

  1. Penatua/Diaken dan Kepribadiannya.
  2. Penatua/Diaken dan Pekerjaannya.
  3. Penatua/Diaken dan keluarganya.
  4. Penatua/Diaken dan koleganya.
  5. Penatua/Diaken dan kondisi sosial ekonominya.
  6. Penatua/Diaken dan keterlibatan politiknya.

Bagaimanakah seharusnya penatua dan diaken menghadapi tantangan-tantangan ini? Menurut rasul Paulus setiap pelayan Tuhan memerlukan hikmat dan kearifan dari Tuhan. Di dalam suratnya Rasul Paulus memberi nasehat sbb:

  • “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita,  lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu.” (II Tim. 4:5)
  • Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri, dan berpegang pada perkataan yang benar.” (Titus 1: 7-8)

Menjadi seorang penatua atau diaken berarti belajar untuk menjadi murid Yesus Kristus. Hari demi hari adalah waktu untuk mempelajari apa yang menjadi kehendak Tuhan bukan hanya bagi orang lain yang dilayaninya, tetapi terutama bagi dirinya sendiri. Karena itu menjadi penatua atau diaken adalah bagian dari upaya untuk menjadi anggota jemaat yang dewasa dan bertanggung jawab. [25]

6.   Penutup.

Keberadaan sebagai penatua dan diaken adalah sebuah karunia dari Tuhan. Tuhan berkenan untuk mengikutsertakan manusia dalam pekerjaanNya untuk menyelamatkan manusia. Karena itu penerimaan kita terhadap panggilan Tuhan untuk menjadi muridNya dan ikut serta dalam pelayanan di jemaat harus disertai dengan ucapan syukur, sukacita tetapi juga dengan kerendahan hati serta pengharapan bahwa Tuhan memanggil kita menjadi pelayanNya bukan karena kita tidak berdosa dan sudah sempurna, melainkan karena Tuhan sendiri mau membentuk kita menjadi manusia yang berkenan kepadaNya dan menjadi berkat bagi sesama. Rasul Paulus berkata: “Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Kepustakaan

  1. Abednego, Benyamin, Jabatan gereja dan Kharisma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984.
  2. Abineno, J.L. Ch, Jemaat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987.
  3. Bartlett, David L, Pelayanan Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
  4. Barth, C, Theologia Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.
  5. Hendriks, A.N, Pengatur Rumah Allah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
  6. Van den End, Ch, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme. Jakarta:  BPK Gunung Mulia, 2001.

[1] Dibawakan dalam Pembekalan Majelis Jemaat  Victori Palu – Gereja Kristen Sulawesi Tengah pada hari Jumat tanggal 9 Januari 2009.

[2] Pendeta GKST yang ditugaskan untuk menjadi staf pengajar pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

[3] Dr. J.L. Ch. Abineno., Jemaat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987., hal. 8-9.

[4] Ibid., 18 – 19.

[5] Untuk referensi alkitabiah dapat dibaca di dalam Surat rasul Paulus (I) kepada jemaat Korintus pasal 12 yang berbicara tentang rupa-rupa karunia tetapi satu roh dan banyak anggota tetapi satu tubuh.

[6] Tentang konsep “Pengatur Rumah Allah” dapat dibaca secara lengkap dalam: DR. A. N. Hendriks, Pengatur Rumah Allah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.

[7] Gereja-gereja aliran reformatoris adalah mereka yang mengikuti ajaran-ajaran tokoh reformasi gereja di abad ke-16 seperti Martin Luther dan John Calvin. Dari beberapa aliran itu sekarang ini dikenal apa yang disebut gereja-gereja Lutheran dan calvinis. GKST sendiri secara historis dan dogmatis adalah gereja Calvinis.

[8] Surat Petrus (I) 2: 9.

[9] Untuk lebih mengenal ajaran gereja reformatoris tentang konsep  imamat am orang percaya lihat: Th. Van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001., hal. 43-44.

[10] Dr. C. Barth, Theologia Perjanjian Lama I. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988., hal. 345 – 372.

[11] Dr. J.L. Ch. Abineno., Ibid, hal. 149 – 150.

[12] Untuk referensi alkitabiah lihat Injil Matius 10: 1 – 15, Markus 3: 13 – 19, Lukas 6: 12 – 16, dan Galatia 1: 11 – 2: 10.

[13] Di dalam tradisi Yahudi ada tiga jenis ‘tua-tua’ yaitu: wakil-wakil seluruh bangsa, pemimpin-pemimpin suku, dan pemuka-pemuka masyarakat di kota. Jemaat mula-mula mengambil alih tradisi dan konsep ini untuk menunjuk pada mereka yang menjadi wakil-wakil jemaat dalam menyelenggarakan tugas pelayanan dan sekaligus memimpin kehidupan persekutuan, pelayanan, dan kesaksian berdasarkan karunia Roh Kudus. Untuk selengkapnya lihat: DR. A.N. Hendriks., Ibid, hal. 3.

[14] Ibid., hal. 4.

[15] Th. Van den End., Ibid, hal. 381-383.

[16] Tata Dasar GKST 2006 pasal 6 ayat 1 & 2.

[17]  Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca dalam Tata Laksana GKST tahun 2006 pasal 6 ayat 2.

[18] Benyamin A. Abednego, Jabatan dan Kharisma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984., hal. 72 – 79.

[19] Kisah Rasul 20: 28

[20] Benyamin A. Abednego., Ibid. hal. 4.

[21] Untuk lengkapnya nasehat rasul Paulus ini, baca: I Timotius 3 – 4.

[22] Lihat Tata Gereja GKST dan Penjelasannya pasal 85 ayat 1 dan paal 90 ayat 1.

[23] Lihat Tata Gereja GKST dan Penjelasannya pasal 85 ayat 2.

[24] Lihat Tata Gereja GKST dan Penjelasannya Pasal 90 ayat 2.

[25] Baca Efesus 4: 11 – 16 yang berbicara tentang kedewasaan iman anggota jemaat dalam rangka pembangunan jemaat sebagai Tubuh Kristus.

Tentang bnkpshalom

BNKP Shalom merupakan Gereja Kristen yang tidak hanya membawa dan menyebarluaskan Khabar Baik tentang Jurus Selamat yaitu seorang Nabi, Guru, Mesias, Sosok Manusai atau Anak Allah, tetapi keberadaan BNKP Syalom juga merupakan wadah melepas rindu di antara masyarakat atau yang berasal dari Nias di Jakarta.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s